SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI HADROH MARAWIS AL KAUTSAR TAPOS - DEPOK ::::::: MARI HIDUPKAN SENI ISLAMI DAN BUDAYA INDONESIA :::: 089 630 831 508 HADROH DAN MARAWIS AL KAUTSAR TAPOS - DEPOK
BASECAMP KAMI DI JL. RAYA TAPOS BELAKANG SDN CIMPAEUN II RT. 04 / 04 KEL. CIMPAEUN KEC. TAPOS - DEPOK ( RUMAH KANG ZEZEN SYUKRILLAH ) :::::::: BASECAMP KEDUA DI JL. RAYA TAPOS RT. 03 / 04 KEL. CIMPAEUN KEC. TAPOS - DEPOK ( RUMAH KANG NANANG )

Senin, 08 Agustus 2016

BABAD TANAH LELUHUR TAPOS DEPOK

Tapos saat ini merupakan salah satu kecamatan di wilayah Kotip Depok . Sebagai bagian wilayah Kota Depok ternyata memiliki  cerita yang tak kalah bagusnya dan penuh semangat perjuangan dalam merebut kemerdekaan bangsa Indonesia.
Tapos di masa lalu merupakan petilasan para Raja dan pejuang dalam upaya mengendalikan usaha memperebutkan sebuah kemerdekaan . Wilayah Tapospun menjadi  tempat persembunyian  para Raja ketika pasukannya mengalami kekalahan.
Kepahlawanan mereka dikenal sebagai “BABAD  TUK’ KALI  SUNTER  (BABAD TANAH LELUHUR TAPOS DEPOK)”.
Telah ditemukan beberapa makam di wilayah Tapos yang memiliki histori keheroikan mereka  sebagai pahlawan, diantaranya :
1.       Ki  Langkap Kapidatu, asal usul nama Cilangkap , 1460 (Guru Sunan Kalijaga sebelum bertemu Prabu Siliwangi)
2.       Asal usul nama Sindang Karsa, Suka  Majubaru  (Mata air Keinginan, Petilasan Sunan Kalijaga, 1460)
3.       Buyut Dayung Lelana (Eyang  Lembayung) Sukamaju Baru.
4.       Asal usul nama Kebayunan , (sejarah Kanjeng Ratu Pembayun leluhur Tapos di Kebayunan , salah satu Putri Panembahan Senopati  Mataram, 1580)
5.       TAHWOS asal usul nama TAPOS, 1628
6.       Makam  Kanjeng  Raden  Santriyuda, 1629 (Wali Mahmudin,  Putra Sultan Agung Mataram) dan istrinya Nyimas Utari Sandijayaningsih Tapos
7.       Makam Buyut Riin (Raden Reksekbuwono) Tapos,1682.
8.       Makam Raden Bagus Wanabaya dan Tumenggung  Upasanta , Kebayunan  1628 – 1682.
9.       Makam ibu Ratu Ambo Mayangsari istri Pangeran Purbaya  Putra  Sultan Abdul Fattah, di Cimpaeun , 1688
10.   Makam Raden Panji Wanayasa Putra Bagus  Wanabaya di Setu Jatijajar, 1688.
11.    Makam Tumenggung Surotani di Sukatani , 1629 (asal usul Sukatani, makam di Kapitan)
12.   Sejarah Sumur Gedhe dan Teblong  (Ciampaeun),  Kapitan (Sukatani), Lemah Duwur dan Kepala Kali Sunter, 1700.
13.   Sejarah  Leuwinanggung dan Tubagus  Pangeling, 1700.
14.   Makam Buyut Kuningan  (Santri Bethot), 1700.
Mereka semua adalah para pejuang yang memperjuangkan untuk merebut Tanah Nusantara dari para penjajah khususnya bangsa Belanda.  Perjuangan mereka sangat berat , begitu banyak pengorbanan mereka terhadap pembelaan ini, dimana harus mengorbankan harta, tahta sebagai raja serta sanak keluarga bahkan merekapun harus  dikhianati oleh anak dan kerabat mereka sendiri.
Wilayah Tapos merupakan daerah lintasan para pengembara maupun para pejuang sejak jaman kerajaan Pajajaran, Tapos juga menjadi wilayah perbatasan antara wilayah Jayakarta dan wilayah Kerajaan Pajajaran.
Tapos saat ini meliputi wilayah Cikeas, Leuwinanggung, Sukatani, Jatijajar, Ciampaeun.
Untuk itu marilah kita lihat sedikit cerita dibalik kepahlawanan mereka.



Dibantu oleh Asisten JP Coen , Wong Agung Aceh, Nyi Utari yang saat itu menjadi penyanyi klub perwira VOC membunuh JP Coen pada tanggal 20 September 1629 dengan racun arsenikum dalam minuman sang Gubernur Jendral, kemudian ia memenggal kepala dan menyerahkannya pada Wong Agung Aceh yang kemudian melarikannya keluar benteng. Kepala JP Coen kemudian diterima oleh Tumenggung SuroTani dan Bagus Wanabaya untuk dibawa ke Mataram Plered. Sultan Agung memerintahkan agar kepala itu diawetkan dan kelak dikuburkan ditengah tangga ke makam Sultan Agung. JP Coen tewas karena kelengahan dan kehilangan kewaspadaan karena terpukul kematian istri dan anaknya tanggal 16 September 1629 atau 4 hari sebelum JP Coen tewas, apakah Nyi Utari berperan dalam tewasnya istri dan anak JP Coen? yang jelas Nyi Utari adalah sahabat karib Eva Ment, istri JP Coen. Intrik dalam benteng Batavia ini dirancang cermat oleh Bagus Wanabaya yang mempertaruhkan keselamatan Nyi Utari Sandi Jayaningsih anaknya, operasi intelejen ini jelas terinspirasi cerita saat Roro Pembayun, sang ibunda menjadi penari jalanan dalam upaya Mataram Kotagedhe menaklukkan kerajaan Mangir 50 tahun sebelumnya. Kini jasad sang pahlawan Nyi Utari Sandijayaningsih terbaring damai bersama jenazah Wong agung Aceh yang menjadi suaminya di keramat Tapos yang terkenal dengan keramat Wali Mahmudin, dinaungi oleh pohon Beringin yang tumbuh miring merunduk seolah menghormati tuannya, Pohon Beringin besar bergaris tengah 2 meter itu menjadi saksi sebuah episode bisu perjuangan besar pahlawan Tapos Depok.


Foto dalam tulisan ini :
Sultan Agung Al Matarami, Gubernur Jendral Belanda ke IV di Batavia Jan Pieterz Soen Coen dan Eva Ment istri JP Coen.



Saudaraku, lihatlah dengan seksama gambar mereka, mereka para tentara khusus Kompeni, lihatlah wajah wajah mereka, mereka bukan berkulit putih, tetapi hitam, coklat dan gelap karena mereka anak bangsa Nusantara, mereka dibayar VOC untuk saling membinasakan, mereka dikumpulkan dari Bali, Jawa, NTT, Maluku, Irian, Sulawesi, Minahasa , Kalimantan, lalu lihatlah ! mereka menghancurkan negeri Banten, Mataram, Jayakarta, Sunda Kelapa, negeri Aceh, mereka pernah masuk ke Tapos Depok di tahun 1628, 1682 dan seterusnya, mengejar pasukan Mataram, menghancurkan pasukan Banten di garis pertahanan Cikeas dan Kali Sunter, mereka menghancurkan pasukan Tanujiwa, pendiri kota Bogor, letnan yang pernah mereka latih untuk memerangi sisa sisa pasukan Banten di Tapos Depok. Mereka sebangsa dengan kita, Kapiten Jonker, Arung Pallaka, Sultan Haji, pribumi pribumi yang bekerjasama dengan penjajah Belanda, ikut mencecap jarahan penjajahan, pandanglah foto ini, lalu bayangkan bahwa bangsa kita memang mudah diadu domba, dengan iming iming tahta, harta dan wanita. Sebuah realita yang sangat ironis, khususnya untuk sebuah bangsa yang katanya sangat berbudaya.
Jejak Letnan Tanujiwa di Tapos Depok

Pada masa ibukota kerajaan Pajajaran dibumihanguskan pasukan Banten, pada tahun 1579, disebutkan bahwa seluruh ibukota kerajaan dihancurkan dan penduduknya dibunuh atau diusir. Pada saat kekuasaan Mataram atas Priangan lepas ke tangan VOC di tahun 1705, serta kemerdekaan Banten berakhir pada tahun 1695 dan berada dibawah kontrol VOC, wilayah bekas ibukota Pajajaran termasuk dalam pengawasan kekuasaan VOC. 

Bertolak dari uraian terdahulu dapatlah dikatakan bahwa kedudukan Bogor itu pada awalnya termasuk dalam lingkup Kerajaan Pajajaran, bahkan di tempat itulah letaknya ibukota kerajaan. Setelah sekian lama hilang dari percaturan historis yang berarti kurang lebih selama satu abad sejak 1579, kota yang pernah berpenghuni 50.000 jiwa itu menggeliat kembali menunjukkan ciri-ciri kehidupan. Reruntuhan kehidupannya mulai tumbuh kembali berkat ekspedisi yang berturut-turut dilakukan oleh Scipio pada tahun 1687, Adolf Winkler tahun 1690 dan Abraham van Riebeeck tahun 1704, 1704 dan 1709.Dalam memanfaatkan wilayah yang dikuasainya, VOC perlu mengenal suatu wilayah tersebut terlebih dahulu. Untuk meneliti wilayah dimaksud, dilakukan ekspedisi pada tahun 1687 yang dipimpin Sersan Scipio dibantu oleh Letnan Patinggi dan Letnan Tanujiwa, seorang Sunda terah Sumedang.

Dari ekspedisi tersebut serta ekspedisi lainnya, tidak ditemukannya pemukiman di bekas ibukota kerajaan, kecuali di beberapa tempat, seperti Cikeas, Citeureup, Kedung Halang dan Parung Angsana. Pada tahun 1687 juga, Tanujiwa yang mendapat perintah dari Camphuijs untuk membuka hutan Pajajaran, akhirnya berhasil mendirikan sebuah perkampungan di Parung Angsana yang kemudian diberi nama Kampung Baru. Tempat inilah yang selanjutnya menjadi cikal bakal tempat kelahiran Kabupaten Bogor yang didirikan kemudian. Kampung-kampung lain yang didirikan oleh Letnan Tanujiwa bersama anggota pasukannya adalah: Parakan Panjang, Parung Kujang, Panaragan, Bantar Jati, Sempur, Baranang Siang, Parung Banteng dan Cimahpar. Dengan adanya Kampung Baru menjadi semacam Pusat Pemerintahan bagi kampung-kampung lainnya.

Dokumen tanggal 7 November 1701 menyebut Tanujiwa sebagai Kepala Kampung Baru dan kampung-kampung lain yang terletak di sebelah hulu Ciliwung. Dengan demikian, Tanujiwa telah ditunjuk sebagai pemimpin kaum koloni di daerah itu. Atas dasar itulah, De Haan memulai daftar bupati-bupati Kampung Baru atau Buitenzorg dari tokoh Tanujiwa (1689-1705), walaupun secara resmi penggabungan distrik-distrik baru terjadi pada tahun 1745.

Pada tahun 1745 sembilan buah kampung digabungkan menjadi satu pemerintahan dibawah Kepala Kampung Baru yang diberi gelar Demang. Gabungan kesembilan kampung inilah yang disebut Regentschap Kampung Baru yang kemudian menjadi Regentschap Buitenzorg. Pada tahun 1740, sewaktu masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff, dibangunlah tempat peristirahatan, pada lokasi Istana Bogor sekarang yang diberi nama Buitenzorg. Dari waktu ke waktu, villa tersebut terus berkembang dengan pesat baik dari sisi fisik maupun fungsinya.

Pada tahun 1754, Bupati Kampung Baru, Demang Wiranata mengajukan permohonan kepada Guubernur Jenderal Jacob Mossel agar diijinkan mendirikan rumah tempat tinggal di Sukahati, terletak di Timur Cisadane dekat Cipakancilan yang lokasinya dekat empang besar. Nama Empang selanjutnya berangsur-angsur mendesak nama Sukahati, yang akhirnya pada tahun 1815 secara resmi nama daerahnya adalah Empang. Dengan dibukanya jalur hubungan kereta api Batavia-Buitenzorg pada tahun 1873, sangat mempengaruhi mobilitas sosial dan perekonomian kota
Pada tahun 1683 Sultan Ageng Tirtayasa raja Banten dikalahkan VOC. Putranya yang bernama Pangeran Purbaya melarikan diri ke Hutan Keranggan disekitar Gunung Gede. Ia memutuskan menyerah tetapi hanya mau dijemput perwira VOC pribumi.
Kapten Ruys (pemimpin benteng Tanjungpura) adalah Kompeni yang membujuk kelompok Untung. Mereka ditawari pekerjaan sebagai tentara VOC daripada hidup sebagai buronan. Untung pun dilatih ketentaraan, diberi pangkat letnan, dan ditugasi menjemput Pangeran Purbaya.
Untung menemui Pangeran Purbaya untuk dibawa ke Tanjungpura. Datang pula pasukan Vaandrig Kuffeler yang memperlakukan Pangeran Purbaya dengan kasar. Untung tidak terima dan menghancurkan pasukan Kuffeler di Sungai Cikalong, 28 Januari 1684.
Pangeran Purbaya tetap menyerah ke Tanjungpura, sementara Nyi Ratu Ambo Mayang sari istri Pangeran Purbaya bin Sultan Ageng Tirtayasa tetap bergabung dengan pasukan sisa sisa gerilya Banten dibawah pimpinan Tubagus Pangeling, iparnya dan wafat di Cimpaeun Tapos Depok, istrinya yang lain bernama Gusik Kusuma meminta Untung mengantarnya pulang ke Kartasura. Untung kini kembali menjadi buronan VOC. Antara lain ia pernah menghancurkan pasukan Jacob Couper yang mengejarnya di desa Rajapolah. Ketika melewati Cirebon, Untung bertengkar dengan Raden Surapati anak angkat sultan. Setelah diadili, terbukti yang bersalah adalah Suropati. Surapati pun dihukum mati. Sejak itu nama Surapati oleh Sultan Cirebon diserahkan kepada Untung.

Terbunuhnya Kapten Tack
Untung alias Suropati tiba di Kartasura mengantarkan Raden Ayu Gusik Kusuma pada ayahnya, yaitu Patih Nerangkusuma. Nerangkusuma adalah tokoh anti VOC yang gencar mendesak Amangkurat II agar mengkhianati perjanjian dengan bangsa Belanda itu. Nerangkusuma juga menikahkan Gusik Kusuma dengan Suropati. Kapten Francois Tack (perwira VOC senior yang ikut berjasa dalam penumpasan Trunajaya dan Sultan Ageng Tirtayasa) tiba di Kartasura bulan Februari 1686 untuk menangkap Suropati. Amangkurat II yang telah dipengaruhi Nerangkusuma, pura-pura membantu VOC. Pertempuran pun meletus di halaman keraton. Pasukan VOC hancur. Sebanyak 75 orang Belanda tewas. Kapten Tack sendiri tewas di tangan Untung Suropati.Tentara Belanda yang masih hidup menyelamatkan diri ke benteng mereka.
Bergelar Tumenggung Wiranegara
Amangkurat II takut pengkhianantannya terbongkar. Ia merestui Suropati dan Nerangkusuma merebut Pasuruan. Di kota itu, Suropati mengalahkan bupatinya, yaitu Anggajaya, yang kemudian melarikan diri ke Surabaya. Bupati Surabaya bernama Adipati Jangrana tidak melakukan pembalasan karena ia sendiri sudah kenal dengan Suropati di Kartasura.
Untung Suropati pun mengangkat diri menjadi bupati Pasuruan bergelar Tumenggung Wiranegara.Pada tahun 1690 Amangkurat II pura-pura mengirim pasukan untuk merebut Pasuruan. Tentu saja pasukan ini mengalami kegagalan karena pertempurannya hanya bersifat sandiwara sebagai usaha mengelabui VOC.
Kematian Untung Suropati
Sepeninggal Amangkurat II tahun 1703, terjadi perebutan takhta Kartasura antara Amangkurat III melawan Pangeran Puger. Pada tahun 1704 Pangeran Puger mengangkat diri menjadi Pakubuwana I dengan dukungan VOC. Tahun 1705 Amangkurat III diusir dari Kartasura dan berlindung ke Pasuruan.
Pada bulan September 1706 gabungan pasukan VOC, Kartasura, Madura, dan Surabaya dipimpin Mayor Goovert Knole menyerbu Pasuruan. Pertempuran di benteng Bangil akhirnya menewaskan Untung Suropati alias Wiranegara tanggal 17 Oktober 1706. Namun ia berwasiat agar kematiannya dirahasiakan. Makam Suropati pun dibuat rata dengan tanah. Perjuangan dilanjutkan putra-putranya dengan membawa tandu berisi Suropati palsu. Pada tanggal 18 Juni 1707 Herman de Wilde memimpin ekspedisi mengejar Amangkurat III. Ia menemukan makam Suropati yang segera dibongkarnya. Jenazah Suropati pun dibakar dan abunya dibuang ke laut
.




Berbahagialah para penduduk asli keturunan Tapos Depok karena ternyata masih berkaitan dengan keturunan kerajaan Mataram Islam pertama yang didirikan oleh Kanjeng Panembahan Senopati ing Mataram berkedudukan di Kotagedhe Mataram Yogyakarta, Makam keramat Kebayunan adalah peristirahatan terakhir dari Kanjeng Ratu Pembayun putri sang Panembahan Senopati maka disebutlah "kebayunan" oleh para pengikutnya, Claim ini sekaligus menolak anggapan bahwa makam tersebut adalah makam Syech Bayannilah karena syech Bayanillah adalah guru dari Prabu Kian Santang dan Nyi Subang Larang di Mekkah, Ratu Pembayun juga dikenal di Banten sebagai putri Maulana Hasanuddin, tetapi makamnya ada di kompleks makam kerajaan Banten, demikian juga dengan Ratu Pembayun putri Sunan Gunung jati yang makamnya ada di Kompleks makam Cirebon, Mengapa sang Ratu Pembayun bisa sampai ke Tapos Depok, karena peristiwa wafatnya sang suami Ki ageng Mangir yang tragis karena dibunuh oleh sang ayah Panembahan Senopati, jiwa kebangsaan Ratu Pembayun terlihat saat ia dan anaknya Bagus Wanabaya terlibat dalam peperangan Jepara- Batavia tahun 1618 dengan kemenangan Mataram , saat itu juga Ratu Pembayun hijrah ke Tapos Depok dalam rangka mendekati Batavia tempat para Kompeni membangun benteng, Pembayun bersumpah setia untuk tetap memerangi penjajah Belanda. Karena foto Ratu Pembayun tidak ada maka penulis menampilkan foto cucu-cicitnya yaitu Gusti Kanjeng Ratu Pembayun, Putri Raja dan Gubernur Propinsi DIY Hamengkubuwono ke X, maka kalau ada warga Tapos Depok berkunjung Yogyakarta jangan lupa mampir ke Kraton Yogyakarta, insyaallah nenek moyang warga Tapos ada di kraton Mataram Yogyakarta.Katur dumateng GRAy Ratu Pembayun : Nyuwun idzin amargi masang foto, mugi dados kesaenan kaliyan majuning kecamatan Tapos Depok Jawa Barat.








Ketiganya berhubungan erat dengan keberadaan makam Ratu Pembayun di Tapos Depok karena Panembahan Senopati adalah ayah dari Ratu Pembayun, watu gilang dalam gambar adalah tempat suami Ratu Pembayun, Ki Ageng Mangir wafat karena dibenturkan oleh mertua sekaligus musuhnya itu, kejadian itu terjadi di kraton Mataram yang berkedudukan di Kotagedhe Yogyakarta, kisah cinta tragis Ratu Pembayun berlanjut dengan pengembaraan sang`Ratu Pembayun hingga tiba di Tapos Depok Jawa Barat pada tahun 1619 sampai beliau meninggal disana yaitu di keramat Kebayunan Tapos bersama dengan Tumenggung Upasanta dan Ki bagus Wanabaya anaknya, kini Ratu Pembayun terbaring tenang disana, jauh dari tempat kelahirannya tetapi dekat dengan Batavia musuh keturunannya, Pembayun sang pecinta tanah air, Right and Wrong is my Country, demikian sikap hidupnya
.                                              



Pertempuran Jawa Kompeni Belanda 1618


Pertempuran Jepara terjadi antara tentara Mataram dengan Pos Perdagangan VOC yang ada di Jepara, dalam pertempuran ini, kompeni Belanda mengalami kekalahan . Perang ini juga membawa perubahan peta perdagangan beras di Jawa yang kemudian dikendalikan dengan ketat oleh Sultan Agung. Salah satu tentara Mataram dari Priangan bernaman Ki Kartaran atau Purwagalih atau Ki Jepra, seusia perang kembali bersama teman karibnya Ki bagus Wanabaya dan ibunya Ratu Pembayun ke Bogor Jawa Barat, Di daerah Tapos Ratu Pembayun dan Ki Bagus Wanabaya memutuskan untuk tinggal dan menjadi sesepuh wilayah Tapos saat itu, pertemuan selanjutnya adalah saat Ki Jepra dan Bagus Wanabaya bergabung dengan balatentara Mataram pada perang VOC Mataram 1628-1629, wilayah Tapos Depok menjadi basis tentara Mataram dalam menghadapi tentara Belanda di Batavia.


Ditulis karena berhubungan dengan sejarah Tapos Depok antara Roro Pembayun Kebayunan dengan Ki Kartaran ( Ki Jepra yang dimakamkan di tengah tengah Kebun Raya Bogor ) Ini adalah trah dan sarasilah para leluhur di kawasan Caringin yang sejarahnya telah mewarnai corak kehidupan di tempat ini dan kehadirannya dirasakan melalui pengucapan nama penuh hormat serta diketahui melalui segala petilasan peninggalan mereka Berbagai tokoh dan nama keturunan telah hadir di Caringin baik ulama maupun prajurit, orang saleh maupun jawara dari trah Kalijaga dan Ngampel Denta, juga dari darah agung Siliwangi dan tidak ketinggalan pula para pahlawan perkasa dari Mataram disertai dengan banyak para tokoh dari wetan lainnya Mereka semua telah meninggalkan jejaknya di Bumi Caringin yaitu jejak dan tapak yang pantas dipelihara dan diikuti Demikianlah kini akan diuraikan secara rapi berurutan para nenek moyang yang dahulu telah membuat sejarah di kecamatan ini.

Dari trah Kalijaga datanglah Eyang Sapujagad, yaitu Kyai Langlangbuwana yang menikah dengan Setiyadiningsih atau Hadityaningsih yaitu putri yang di petilasan Cileungsi disebut Kembang Cempaka Putih dan pada petilasan Babakan diberi gelar Dewi Kembang Kuning maka kedua suami istri inilah yang telah menurunkan Kyai Elang Bangalan yang telah datang dan seterusnya menetap di daerah Lemah Duhur.

Kemudian daripada itu Elang Bangalanpun menurunkan empat orang anak yang tertua adalah Arya Sancang di Garut-Pameungpeuk diikuti oleh Eyang Badigul Jaya Pancawati, Ayah Ursi Pancawati dan Eyang Ragil Pancawati maka ketiga anak yang lebih muda itu turut menjadi cikal bakal Caringin serta meninggalkan kenangan di Pasir Karamat yang diluhurkan.

Anak tertua Eyang Badigul Jaya adalah Ayah Iming, yaitu Kyai Haji Sulaiman yang makamnya masih dapat ditemukan di Kebun Tajur Anak yang kedua dinamakan Umaenah, yaitu istri Eyang Ranggawulung atau Rangga Agung maka suaminya itulah yang menjadi leluhur di Cimande-Tarik Kolot Anak yang ketiga dinamakan Romiah yang dinikahi oleh Eyang Buyut Umang, yaitu sebagaimana ia disebut di Caringin, karena di Cinagara ia disebut Aki Degle adapun Eyang Buyut Umang itu adalah putra Ki Kastiwa, cucu Ki Kaswita, cicit Suwita, dan turunan pahlawan Jaka Sembung, yaitu suami Roijah gelar Bajing Ireng sedangkan Eyang Buyut Umang sendiri juga telah menurunkan dua orang anak, yaitu Aki Eming yang dipusarakan di makam Gede di Tonggoh dan Aki yang dipusarakan di Cipopokol Hilir, Pasir Muncang Selanjutnya, anak keempat Badigul Jaya adalah Samsiah, yang menikah dengan Aki Kartijan dan anak kelima adalah Amsiah yang menikah dengan Bayureksa yang disebut juga Reksabuwana, yaitu putra Radyaksa, cucu Jayadiningrat dari Mataram ialah pahlawan perkasa yang petilasannya terdapat di Tanjakan Ciherang maka Bayureksa dan Amsiah menurunkan Ki Ranggagading dan Ki Kumpi yang kedua-duanya dimakamkan di kawasan Cigintung-Caringin Akhirnya, anak kelima Aki Badigul Jaya adalah ibu Esah, yang menikah dengan Aki Bangala yaitu putra Aki Jepra atau Ki Kartaran, dan cucu Aki Kahir, tokoh dunia persilatan.
Maka Aki Kahir menurunkan anak lelaki bernama Ki Kartaran yang berganti sebutan menjadi Ki Jepra sekembalinya dari pertempuran di Tegal Jepara 1618, dia bersahabat dengan cucu Panembahan Senopati bernama Bagus Wanabaya anak ki Ageng Mangir dan Roro Pembayun,Ki Jepra atau ki Purwa Galih mengajak sahabatnya ke Pajajaran, namun sang ibunda Roro Pembayun malah menetap di Bilangan Tapos Depok, Ki Jepra dipusarakan pada dua petilasan di dua tempat sebuah di Kebun Raya Bogor dan sebuah lagi berupa makam putih di Cimande Hilir Ia menurunkan empat orang anak, seorang lelaki dan tiga orang wanita yang tertua adalah Aki Bangala yang menikah dengan uwak Esah yang kedua dalah Nini Sarinem di Ciherang-Limus Nunggal disebut Sri Asih di Cirebon dan Nini Sarem di Cileungsi suaminya adalah Kyai Ajiwijaya dari Plered-Purwakarta yang ketiga adalah Nini Sayem di Ciherang-Limus Nunggal yang menikah dengan Ki Puspa dari Cirebon yaitu tokoh yang dihubungkan dengan Kuda Puspagati dari petilasan Pasir Kuda di Lemah Duhur dan yang keempat adalah Nini Sarimpen di Garut yaitu istri Banaspati, seorang panglima Panembahan Sabakingkin dari Banten.





Beginilah kira kira kecamatan Tapos tahun 1620 -1682, Ada Panembahan Juminah dan Bagus Wanabaya dalam perang Kompeni - Mataram, ada Sultan Ageng Tirtayasa, syech Yusuf, Tubagus Pangeling, Kyai mas Besot, santri Bethot, Ambo Mayangsari, Pangeran Purbaya, Panji Wanayasa, Uyut Riin, dalam perang Banten - Kompeni Belanda tahun 1682, para pembesar Banten turun bertempur bersama rakyat di hutan Kranggan, hutan Sunter disekitar Kali Cikeas dan Kali Sunter, tercatat istri pangeran Purbaya, Nyai Ratu Ambo Mayangsari tewas dalam pertempuran Cikeas dan dimakamkan di Cimpaeun

Jejak Syech Yusuf , Cikal bakal pendekar pendekar Banten yang terkenal sakti tak lepas dari upaya Syech Yusuf al makasari. Ulama kelahiran Bugis Makasar ini lama menetap di Banten dan menjadi penasehat utama Sultan Ageng Tirtayasa berjuang bersama dalam mensyiarkan Islam dan melawan Penjajahan belanda. Sekitar tahun 1670 sekembalinya dari timur tengah Syech Yusuf al makasari tinggal di Banten dan menikah dengan Putri Sultan Ageng Tirtayasa. Kedalaman ilmu yang dimiliki Syeck Yusuf menjadikan Beliu begitu cepat terkenal dan menjadikan Banten sebagai Pusat pendidikan Islam. Banyak Murid murid yang berdatangan dari berbagai penjuru negri untuk belajar kepada Syech Yusuf . 

Disamping mengajarkan tentang ilmu-ilmu syariat beliau juga mengajarkan ilmu beladiri untuk berjuang bersama melawan penjajah Belanda.

Putra Bugis sulawesi lahir di Tallo 13 juli 1627 ,Ayahnya bernama Abdulloh dan ibunya bernama Aminah, sejak kecil di didik dalam lingkungan yang islami belajar kepada ulama-ulama setempat namun yang menarik perhatiaannya adalah kecintaannya untuk memperdalam ilmu tasawuf. Menginjak remaja beliau belajar kepada seorang ulama terkenal di Makasar bernama Syech Jalaludin al aidit. Tahun 1644 Syech yusuf dengan menumpang kapal melayu belayar menuju Timur tengah untuk memperdalam ilmu-ilmu agama. Di Damaskus beliau berguru kepada Syech Abu al barkah dan gurunya tersebut yang memberi nama syech yusup dengan “Al makasari” serta memberikan ijazah Tarekat Khalwati kepadanya. DI samping belajar syech yusul al makasri juga mengajar di Mekkah kepada santri-santri yang berasal dari indonesia . Konsep tasawuf yang di ajarkan Syech Yusuf tentang Pemurnian kepercayaan pada keesaan Tuhan sangat menarik minat pelajar-pelajar yang berada di Mekkah . Menurut Syech Yusuf bahwa Tauhid adalah komponen penting dalam ajaran Islam maka bagi yang tidak percaya tentang tauhid dikategorikan sebagai kafir. Hakekat Tuhan sendiri menurut Syech Yusuf adalah kesatuan dari sifat-sifat yang saling bertentangan dan tak seorangpun dapat memahami Sirr ( rahasia) kecuali mereka yang telah di beri Kasyaf oleh Tuhan. Beliau menegaskan bahwa seseorang yang mengamalkan Syariat itu lebih baik daripada orang yang mengamalkan Tasawuf tapi mengabaikan ajaran Hukum Islam.

Selama Menetap di banten Syech Yusuf al makassari menjabat sebagai Penasehat Spritual Sultan Ageng Tirtayasa, pengaruhnya terhadap masyarakat banten untuk melawan Penjajah Belanda sangat ditakutkan oleh belanda, apalagi Murid -murid Syech yusuf Al makassari terkenal sebagai pendekar pendekar Banten yang kebal terhadap Senjata membuat Pasukan Belanda kalang kabut. Maka tehnik licik belandapun dilakukannya dengan memecah belah serta mengadu domba terhadap keluarga Sultan. Hasutan-hasutan Belanda terhadap putra Sultan Ageng tirtayasa yang bernama Sultan Haji rupanya telah berhasil. Dengan dukungan militer Belanda Sultan Haji Putra Sultan Ageng bertempur dengan Ayahnya Sendiri Sultan Ageng Tirtayasa. Dalam sebuah pertempuran di Kali Cikeas Syech Yusuf di tawan Belanda dan diasingkan ke Pulau Ceylon ( srilangka) . Di pengasingannya beliau bertemu dengan Ulama Sri langkah bernama Syech Ibrahim bin mi’an dan sering mengadakan diskusi kegamaan dan majlis ta’lim . Pembahasan tentang konsep Tasawuf yang diajarkan oleh Syech Yusuf sangat menarik minta para ulama serta jama’ah setempat dan mereka meminta kepada Syech Yusuf untuk membuat sebuah Kitab tentang Tasawuf. Dan Syech yusufpun akhirnya mengarang Kitab tentang Konsep tawasuf yang berjudul “kaypiyyah At tasawuf”. Rupanya Belanda tak mau kecolongan lagi dengan pengaruh – pengaruh Syech Yusuf sehingga Syech yusufpun kembali di asingkan ke Afrika Selatan sampai akhir hayatnya. Syech yusuf al makassari wafat tahun 1699 dalam usia 72 tahun dan di makamkan di Afrika selatan. Dan yang menarik adalah sekitar tahun 1705 kerangka Syech yusuf Al makassari yang di makamkan di afrika selatan di pindahkan oleh murid-murid beliau ke Tanah kelahirannya di Sulawesi selatan



Sultan Kerajaan Banten yang berkuasa pada tahun 1651-1683. Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa yang menjadi putra mahkota ialah putranya yang tertua bernama Pangeran Gusti atau Pangeran Anom dan terkenal dengan julukan Sultan Haji. Ia sangat mudah terpengaruh oleh Kompeni bahkan gaya hidupnya kebarat-baratan, sehingga banyak berselisih faham dengan Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Ageng Tirtayasa sangat menyadari hal itu, sehingga ia mulai bersiap-siap menghimpun kekuatan dengan daerah-daerah kerajaan yang sependirian dengannya untuk menjaga pengaruh Kompeni yang ingin menjajahnya.

Sultan Ageng dan Sultan Haji akhirnya menjadi korban politik adu domba Belanda. Pada tanggal 26 malam 27 Pebruari tahun 1682 Sultan Ageng Tirtayasa mengeluarkan perintah untuk segera menyerang Sorosowan di tempat Sultan Haji. Sultan Haji pun mengalami kekekalahan karena banyak pasukannya yang berpindah haluan memihak Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Haji kemudian meminta bantuan kepada Belanda dan dikirimlah pasukan untuk membantu Sultan Haji dalam pertempuran tersebut. Akhimya pusat kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa pada akhir Desember 1682 berhasil jatuh ke tangan Kompeni. Sebelum meninggalkan Tirtayasa, Sultan Ageng membumihanguskan keraton tersebut sehingga rata dengan tanah daripada ditempati oleh Kompeni. Akhirnya Sultan Ageng Tirtayasa dengan Pangeran Purbaya, Syech Yusuf dan pembesar lain serta tentara yang setia mundur dan bersembunyi di hutan Kranggan disepanjang Kali Cikeas dan kali Sunter ( sekarang masuk wilayah Tapos Depok ).

Dari hutan tersebut sultan tetap berusaha melanjutkan perlawanan. Sultan Haji dengan bujukan Belanda menyuruh ayahnya kembali ke keraton dan tanpa kecurigaan sedikit pun Sultan akhirnya kembali ke keraton, namun ternyata ditangkap oleh Kompeni Belanda. Itulah kerjasama yang dimaksud oleh Kompeni Belanda dan ia dimasukkan dalam penjara di Jakarta yang dijaga oleh serdadu-serdadu Kompeni. Akhirnya pada tahun 1692 di tempat itu pula Sultan Ageng meninggal dan makamnya dimintakan untuk dimakamkan di samping para makam Sultan di sebelah utara Masjid Agung. Di Jakarta, namanya dijadikan nama jalan di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

 

















Berkunjunglah ke mata air kali Sunter di Tapos, rasakan kesejukan alami diantara rerimbunan pohon yang masih asri menghampar, tak ada yang mengira bahwa wilayah mata air ini menghimpun kisah kisah kepahlawanan yang heroik, kita lihat perjuangan putri kesayangan Panembahan Senopati Mataram roro Pembayun yang makamnya terdapat di Kebayunan Tapos Depok, kecintaan pada negerinya mendarah daging, bersama anaknya Ki Raden Bagus Wanabaya dan Tumenggung Uphasanta, bahu membahu bersama cucunya Nyi Utari Sandijayaningsih berjuang melawan tentara Belanda di Batavia tahun 1629 , Nyi Utari pahlawan putri yang mendapat gelar langsung dari Sultan Agung Hanyokrokusuma inilah yang mampu menebas leher Jan Pieterz Soen Coen , Gubernur Jendral Belanda ke 4 di Hindia Belanda. Ia membunuh gubernur jendral Belanda itu bersama suaminya Santriyuda atau Wali Mahmudin, kini jasad mereka berbaring tenang di makam keramat Tapos, dinaungi pohon Beringin Lo bergaris tengah 2 m yang merunduk seakan menghormati sang Pahlawannya, lalu ada pula saudaranya Raden Panji Wanayasa yang dimakamkan di pinggir Setu Jatijajar, tokoh misterius yang ikut perang melawan Belanda 2 kali, saat Mataram menyerang Batavia dan perang Banten di tahun 1682.Tokoh inilah yang menyebabkan pasukan Zeni Kompeni Belanda membuat setu-setu di Depok, dalihnya untuk penampungan air, padahal mereka mencari simpanan harta karun Banten disisi makam para pemimpin Banten, maka konon Depok terkenal dengan setu setunya.
Berkunjunglah ke makam seorang panglima kerajaan Banten bergelar Tubagus Pangeling dan sahabatnya kyai Mas Besot di keramat Leuwinanggung di pinggir kali Cikeas, basis pertahanan tentara khusus Sultan Ageng Tirtayasa, pasti hati kita langsung teduh, terbuai oleh kesejukan makam sang pahlawan Muslim di abad ke 17 ini, murid Syech Yusuf al Makkasari ini adalah salah satu putra Sultan Abdul Fattah atau lebih dikenal sebagai Sultan Ageng Tirtayasa, tak jauh dari Leuwinanggung juga terdapat makam Nyai Ambo Mayangsari, Istri pangeran Purbaya kakak Tubagus Pangeling yang tewas dalam pertempuran Cikeas tahun 1682, makamnya dinaungi dengan kerindangan pohon hijau di Cimpaeun, takdir maut menjemput di Cikeas padahal dia telah menemani suaminya pangeran Purbaya dibuang ke Sailan oleh Kompeni Belanda.
Yang lebih fenomental adalah makam Santri Bethot di mata air kali Sunter, tokoh yang beristrikan keturunan Chinese ini dikenal sebagai bendaharawan kraton Banten, berpeti peti harta kerajaan Banten diduga disembunyikan oleh pasukan santri Bethot disepanjang aliran kali Sunter, makamnya sangat sederhana, terletak di kampung Poncol Cilangkap Tapos Depok, tokoh yang pernah dibuang bersama Syech Yusuf al Makassari ini bernama asli Lie Suntek, apakah nama ini berkaitan dengan pemberian nama Kali Sunter tentu masih perlu diidentifikasi lebih lanjut.Lalu mampirlah sejenak di makam uyut Riin Reksobuwono, makam ini konon berisikan jasad utuh sang panglima Banten ditahun 1682 yang dipindah dari komplek lapangan Golf Emeralda tahun 1980 an , konon sebelum dipindah tanpa ijinnya buldozer proyek selalu tak mampu mendekati makamnya, setelah negoisasi yang alot dengan medium orang pintar barulah beliau mau dipindah ke makam yang baru diatas Rumah Potong Hewan (RPH) di Tapos.
Mau ketenangan yang luar biasa, datanglah ke makam Emak Uyut Cerewet di Cilangkap Setu, sepoi sepoi angin semilir mengiringi cericit burung di kompleks makam tak bernisan ini, konon makam ini adalah makam salah satu keturunan Sunan Kalijaga bernama embah Dalem Sapujagad, yang menguasai sendang-karsa di Cilangkap Tapos Depok


Ki Langkap Kapidatu adalah guru Sunan Kalijaga, beliau mengajarkan ajaran "Tirta Amerta" sebuah episode Werkudara mencari air kehidupan sejati, oleh gurunya Sang Wekudara disuruh menyelam kedasar lautan untuk mencari air kehidupan yang dapat membuat orang hidup selama-lamanya, akhirnya Sang Bima ( Werkudara ) bertemu dengan Dewaruci ( Nabi Khidir ) dari beliaulah sang Bima mendapat pencerahan hidup sejati, keramat Lemah duwur terletak disisi Kali Sunter Cilangkap Tapos Depok.

Ki Sukma Majmu adalah murid dari Sunan Kalijogo yang telah menemukan bokor ( kendi besi ) di mata air Sindangkarsa, selanjutnya beliau mendapat hadiah Bendhe kyai Binong dari Ki Langkap di lemah duwur, bersama Sunan Kalijogo dalam ekspedisi Pajajaran, makamnya terletak di RW 9 Sukamaju Baru Tapos Depok

Pasangan pejuang Mataram yang berhasil memenggal kepala Jan Pieters Zoen Coen pada tanggal 20 September tahun 1629,anggota divisi Demang Surotani Mataram ini bertugas sebagai jaringan mata-mata di dalam Benteng Mataram dan berhasil membunuh komandannya. Dimakamkan di keramat Tapos Depok dengan pohon Beringin besar yang tumbuh mendatar
.

Salah satu komandan pasukan Banten divisi Syech Yusuf Makassar, putra Panji Wanayasa Jatijajar dari ibu seorang keturunan China, pasukan khususnya berjuang menyelamatkan harta kerajaan Banten di tahun 1682, salah satu penyebab digalinya setu setu di Depok dan Bogor oleh pasukan VOC dalam rangka mencari harta karun kerajaan Banten berdasarkan laporan sandi bahwa Santri Bethot telah menyembunyikan berpeti peti harta karun milik Banten di Wilayah Tapos Depok dan sekitarnya.

Raden Panji Wanayasa, putra Bagus Wanabaya, cucu Pembayun di Kebayunan Tapos, sempat berjuang melawan VOC Belanda di tahun 1629, menjadi ulama di Jatijajar, anaknya Raden Santri Bethot,menjadi panglima pasukan sandi kerajaan Banten, gugur di usia sangat tua terbaring disisi setu Jatijajar, konon kuda dan keretanya masih sering terlihat berjalan dikeliling setu Jatijajar.

Ditepi kali Cikeas juga terbaring seorang isteri pejuang, Pangeran Purbaya putra Sultan Ageng Tirtayasa Banten, sesudah istana Surosuwan dibakar, beliau rela meninggalkan istana bergabung dengan para pejuang di basis gerilya kali Sunter melawan VOC-Belanda, melawan penjajahan, sampai ajal menjemput.


Sebuah makam yang unik dan angker, tak ada satupun nisan terpajang didalamnya, ada makam Dewi Sekar Rinonce dan Kyai Sapujagat, penjaga wilayah Sindangkarsa, sebuah mata air di Kali Sunter, konon ditemukan oleh Sunan Kalijogo bersama murid-muridnya, saat hendak
berdakwah ke Pajajaran pada tahun 1450 Masehi.

Ditepi Kali Cikeas, terbaring seorang pejuang bersama para pengikutnya, Tubagus Pangeling dan seorang karibnya Kyai Mas Besot, jiwa gagahnya bangkit saat membela ayahnya Sultan Abdul Fattah melawan Belanda di Batavia, Tubagus Pangeling bertahan di kedalaman hutan Sunter di tahun 1682
 Diujung mata air Kali Sunter, terbaring seorang putri Mataram, putri Kanjeng Panembahan Senopati, pendiri dinasti Mataram Islam. Pembayun, seorang pemberani, seorang pecinta negeri sejati, berjuang sampai akhir hayat.

Makam Pangeran Sake , Citeureup Bogor

Pangeran Sake adalah satu putra Sultan Ageng Tirta Yasa yang berjuang bersama Syech Yusuf dan Pangeran Purbaya melawan Kompeni Belanda tahun 1682, sebagai keluarga kerajaan Banten beliau rela berjuang bersama ayahandanya, meninggalkan segala kemewahan kerajaan, berjuang bersama dengan rakyat, lihat saja makamnya jauh dari Banten, sama dengan kakaknya Tubagus Pengeling di Leuwinanggung Tapos, makamnya terletak tak jauh dari Kali Cikeas.

Makam Raden Ayu Roro Pembayun di Kebayunan Tapos Depok

 


Pusara makam Raden Ayu Roro Pembayun di keramat Kebayunan kel Tapos , Kec Tapos Depok, beliau adalah Istri ki Ageng Mangir dan anak sulung Panembahan Senopati ing Mataram, perjalanan duka hidupnya menghantarkan pada kisah perang Mataram Batavia tahun 1628-1629, putranya Bagus Wonoboyo dan cucunya Raden Ayu Utari Sandijayaningsih adalah tokoh utama dibalik tewasnya Gubernur Jendral VOC ke 4 Yaan Piter Soen Coen, yang tewas pada tanggal 20 september 1629 tepat pada serangan Maram ke II, kepalanya dipenggal oleh utari sandijayangsih dan dibawa ke hutan Tapos, selanjutnya selanjutnya oleh Tumenggung Surotani kepala itu dibawa melalui sumedang, Purwokerto akhirnya dipersembahkan kehadapan Sultan Agung di Plered bantul, kelak kepala itu ditanam di tangga makam Sultan Agung di Imogiri Yogyakarta. dalam Gambar : Embah Saka Molon, jurukunci makam.

Makam Tumenggung Uposonto , Panglima Perang Mataram

 


Tumenggung Uposonto adalah salah satu pimpinan pasukan mataram saat menyerang Batavia tahun 1628 atau pada ekspedisi Koloduto pertama, beliau gugur di gerbang luar benteng Batavia di Pasar Ikan sekarang, jenazahnya dibawa ke markas tentara mataram di Hutan Tapos Depok, di makam Kebayunan, sesuai dengan tradisi Mataram, makamnya diletakkan diatas makam roro Pembayun mengingat Tumenggung Uposonto adalah salah satu jendralnya Sultan Agung
(Sumber: KOL DAN SENGON TAPOS DEPOK)
Itu adalah sedikit cerita tentang Tapos yang ternyata banyak memiliki arti bagi perjuangan bangsa.  Marilah sejak sekarang mulai  mencoba untuk lebih menghargai jasa – jasa  atas perjuangan mereka dan menghormati peninggalan dan petilasan mereka.

Kamis, 04 Agustus 2016

Kumpulan Teks Sholawat

Sumber dari : https://albanjari-aljadid.blogspot.co.id/2014/07/kumpulan-lirik-syair-sholawat-habib.html

Ya Nabi Salam ’Alaika

Ya Nabi Salam ’Alaika
Ya Rasul Salam ’Alaika
Ya Habib Salam ’Alaika
Sholawatullah ’Alaika

Asyroqol Badru ’Alaina
Fakhtafat Minhul Buduruu
Mitsla Husnik Maa Ro’aina
Khottu Ya Wajha Sururii

Ya Nabi Salam ’Alaika
Ya Rasul Salam ’Alaika
Ya Habib Salam ’Alaika
Sholawatullah ’Alaika

Anta Syamsun Anta Badrun
Anta Nuurun Fauqo Nuuri
Anta Iksiru Wagholi…
Anta Misbahus Shuduri

Ya Nabi Salam ’Alaika
Ya Rasul Salam ’Alaika
Ya Habib Salam ’Alaika
Sholawatullah ’Alaika

Ya Habibi Ya Muhammad
Ya ’Arusal Khofiqoini
Ya Muayyad Ya Mumajaad
Ya Imamal Qiblataini

Ya Nabi Salam ’Alaika
Ya Rasul Salam ’Alaika
Ya Habib Salam ’Alaika
Sholawatullah ’Alaika


Ya Thoybah

Ya Thoybah Ya Thoybah
Ya Dawal Ayaana…
Isytaqnalik (Wal Hawa Nadaana 2x)

Ya Thoybah Ya Thoybah
Ya Dawal Ayaana…
Isytaqnalik (Wal Hawa Nadaana 2x)

Ya ’Ali Yabn Abi Tholib
Minkumul Masdarul Mawahib
Ya Turo Hal ’Uro Li Haajib
’Indakum (Afdholul Ghilmana 2x)

Ya Thoybah Ya Thoybah
Ya Dawal Ayaana…
Isytaqnalik (Wal Hawa Nadaana 2x)

Astadil Hasan Wal Husaini
’Ilanna Biqurrot ’Aini
Ya Syabbal balul Jannataini
Jaddukum Shohibul Qur’ana 2x)

Ya Thoybah Ya Thoybah
Ya Dawal Ayaana…
Isytaqnalik (Wal Hawa Nadaana 2x)

Ya Thoybah Ya Thoybah
Ya Dawal Ayaana…
Isytaqnalik (Wal Hawa Nadaana 2x)


Ya Robbi bil Musthofa

Ya Robbibil Musthofa
Balighmaqosidana Waghfirlanaa
Mamadho Ya Wasyi’al Karomi

Muhammadun Sayyidul Kaunaini
Watsaqolaini Walfariqoini Min ’Urbin
Wamin ’Ajami

Maulaya Sholli Wa Salim Da iman Abada
‘Alan Nabiyyi Wa ’Alil baitikullihimi

Ya Rasulallah Salamun ’Alaika
Ya Rofi ’Asyani Waddaroji

Ahlul Baitil Musthofa Thuhuri
Hum Amanul Ardhi Faddakiri

Ya Rasulallah Salamun ’Alaika
Ya Rofi ’Asyani Waddaroji

Robbi Fanfa’na bibarkati
Wahdinal Husna bihurmatihim

Ya Robbibil Musthofa
Balighmaqosidana Waghfirlanaa
Mamadho Ya Wasyi’al Karomi

Huwal Habibulladzi Turjan Syafa’atuhu
Likulli Haulan Minal Awali Mukhtaqomi

Maulaya Sholli Wa Salim Da iman Abada
‘Alan Nabiyyi Wa ’Alil baitikullihimi

Ya Robbibil Musthofa
Balighmaqosidana Waghfirlanaa
Mamadho Ya Wasyi’al Karomi


Bismillah

Bismillah Ya Allahu Ya Karim
Bismillah Ya Allahu Ya Rohim
Bismillah Bismillah Bismillah
Bismillah Tawakaltu ’AlaAllah
Bismillah Bismillah Bismillah

Bismillah Tawassalna Billah (2x)
Bimillah Tawakkalna ’AlaAllah
Bismillah Bismillah Bismillah

Ya Allahu Ya Manaanu Ya Karim
Ya Allahu Ya Rohmanu Ya Rohim
Ya Allah Ya Allah Ya Allah
Ya Allahu Ya Fattahu Ya Kholiq
Ya Allah Ya Allah Ya Allah

Bismillah Tawassalna Billah (2x)
Bimillah Tawakkalna ’AlaAllah
Bismillah Bismillah Bismillah

Ya Allahu Sattaru Ya Khobir
Ya Allahu Qohharu Ya ’Aziiz
Ya Allah Ya Allah Ya Allah
Ya Allahu Ghoffaru Ya Nashiib
Ya Allah Ya Allah Ya Allah

Bismillah Tawassalna Billah (2x)
Bimillah Tawakkalna ’AlaAllah
Bismillah Bismillah Bismillah

Ya Allahu Ya ’Alaamu Ya Khobir
Ya Allahu Ya Wahaabu Ya Majid
Ya Allah Ya Allah Ya Allah
Ya Allah Ya Rohmanu Ya Rohim
Ya Allah Ya Allah Ya Allah

Bismillah Tawassalna Billah (2x)
Bimillah Tawakkalna ’AlaAllah
Bismillah Bismillah Bismillah


Lil Abi Wal Ummi

Allahumma Sholli Wa Salim ’Alaa
Sayyidina Muhammadin
Adaddama Fil ’Ilmillahi Sholata
Daimata Bidawamin Mulkillahi

Lil Abi Wal Ummi Huququn Wajibun
Antal Minal Anna Biha Mutholabun
Innadaya Kafashri’u Murobbiya…
Waaghfiru Inkhotafaka Mushliyan

Allahumma Sholli Wa Salim ’Alaa
Sayyidina Muhammadin
Adaddama Fil ’Ilmillahi Sholata
Daimata Bidawamin Mulkillahi

Allahumma Sholli Wa Salim ’Alaa
Sayyidina Muhammadin
Adaddama Fil ’Ilmillahi Sholata
Daimata Bidawamin Mulkillahi

’Alaika Antal Taftahilla Allahumma
Maghma Yakun Malan Yakunu
Walaisal inti tahlufi fi’ili faqood
Ma Adasa Bidwaliu Fissaqor

Allahumma Sholli Wa Salim ’Alaa
Sayyidina Muhammadin
Adaddama Fil ’Ilmillahi Sholata
Daimata Bidawamin Mulkillahi

Allahumma Sholli Wa Salim ’Alaa
Sayyidina Muhammadin
Adaddama Fil ’Ilmillahi Sholata
Daimata Bidawamin Mulkillahi


Sidnan Nabi

Sidnan Nabi Sidnan Nabi Sidnan Nabi
Sidnan Nabi Sidnan Nabi Sidnan Nabi
Sidnan Nabi Sidnan Nabi Sidnan Nabi
(Sidi Muhammad Amin Khubtsi
Habibin Nabi 2x)

Ahmadukallahumma Hamdan Mustamir
’Adda Athoyakallati Latan Hashier
Musholliyan Alaa Khitamil Anbiyaa
(Wal ‘Ali Washohobil Hudatil Athqiyaa 2x)

Sidnan Nabi Sidnan Nabi Sidnan Nabi
Sidnan Nabi Sidnan Nabi Sidnan Nabi
Sidnan Nabi Sidnan Nabi Sidnan Nabi
(Sidi Muhammad Amin Khubtsi
Habibin Nabi 2x)

Sidnan Nabi Sidnan Nabi Sidnan Nabi
Sidnan Nabi Sidnan Nabi Sidnan Nabi
Sidnan Nabi Sidnan Nabi Sidnan Nabi
(Sidi Muhammad Amin Khubtsi
Habibin Nabi 2x)

La Fakhro Lil Binti Bimal Basin Wamaa
Bihi Thohallat Min Huliyyin Innama
Fakhrol Fata Libil Uluu Biuladaabi
(Labil Jamali Wal Hariri Wa dzahabi 2x)

Sidnan Nabi Sidnan Nabi Sidnan Nabi
Sidnan Nabi Sidnan Nabi Sidnan Nabi
Sidnan Nabi Sidnan Nabi Sidnan Nabi
(Sidi Muhammad Amin Khubtsi
Habibin Nabi 2x)


Shalawat Badar

Sholatullah Salamullahi
‘Alaa Thoha Rosulillah
Sholatullah Salamullahi
‘Alaa Yasiin Habibillah

Tawasalna Bibismillah
Wabil Hadi Rosulillah
Wakulli Mujahidin lillah
Bi Ahlil Badri Ya Allah

Ilahi Sallimil Ummah
Minal ’Afaati Wan Niqmah
Wamin Hammin Wamin Ghummah
Bi Ahlil Badri Ya Allah

Sholatullah Salamullahi
‘Alaa Thoha Rosulillah
Sholatullah Salamullahi
‘Alaa Yasiin Habibillah

Tawasalna Bibismillah
Wabil Hadi Rosulillah
Wakulli Mujahidin lillah
Bi Ahlil Badri Ya Allah

Ilahi fil Waakrimna
Minaili Maqoolibil Minna
Wadhof’imasa ’Atin Anna
Bi Ahlil Badri Ya Allah

Sholatullah Salamullahi
‘Alaa Thoha Rosulillah
Sholatullah Salamullahi
‘Alaa Yasiin Habibillah

Tawasalna Bibismillah
Wabil Hadi Rosulillah
Wakulli Mujahidin lillah
Bi Ahlil Badri Ya Allah


Ya Abaz Zahro

Ahmad Ya Habibi Ahmad Ya Habibi
Ahmad Ya Habibi Ya Habibi
Salam ’Alaika… Salam ’Alaika

Ya ’Aunal Ghoribi Ya Nurozzholami
Ya Syafi’al Kholqi Ya Habibi
Salam ’Alaika Salam ’Alaika

Ahmad Ya Habibi Ahmad Ya Habibi
Ahmad Ya Habibi Ya Habibi
Salam ’Alaika… Salam ’Alaika

Ya Abal Qoshimi Ya Abaz Zahro-i
Ya Jaddal Husaini Ya Habibi
Salam ’Alaika… Salam ’Alaika

Ahmad Ya Habibi Ahmad Ya Habibi
Ahmad Ya Habibi Ya Habibi
Salam ’Alaika… Salam ’Alaika

Ya Thoha Thohibi Ya Muhyil Qulubi
Ya Qurrotaini Ya Habibi
Salam ’Alaika… Salam ’Alaika

Ahmad Ya Habibi Ahmad Ya Habibi
Ahmad Ya Habibi Ya Habibi
Salam ’Alaika… Salam ’Alaika

Ya Shofwatallahi Ya Rosulallahi
Ya Habiballlahi Ya Habibi
Salam ’Alaika… Salam ’Alaika

Ahmad Ya Habibi Ahmad Ya Habibi
Ahmad Ya Habibi Ya Habibi
Salam ’Alaika… Salam ’Alaika


Ummi

Ummi Yalahnan ’Asyaqohu
Wansyidan Dauman Ansyuduhu
Fikulli Makanin Adzkuruhu…
Ummi… Ummi… Ummi… Ummi…

Ummi… Ummi… Ummi… Ummi…
Ummi… Ummi… Ummi… Ummi…

Ummi Yalahnan ’Asyaqohu
Wansyidan Dauman Ansyuduhu
Fikulli Makanin Adzkuruhu
Wa Adzhollu Adzollu Uroddiduhu

Ummi… Ummi… Ummi… Ummi…
Ummi… Ummi… Ummi… Ummi…

Ummi Ya Ruuhi Wa Hayati
Ya Bahjatan Nafsi Wal Munati
Unsi Fil Hadhiri Wal Ati
Unsi Fil Hadhiri Wal Ati

Ummi… Ummi… Ummi… Ummi…
Ummi… Ummi… Ummi… Ummi…

Allahu Ta’ala Aushoni
Fissirri Walau Fil ’Ilani
Bilbirri Laki Wal Ihsani
Bilbirri Laki Wal Ihsani

Ummi… Ummi… Ummi… Ummi…
Ummi… Ummi… Ummi… Ummi…

Ismuki Man Khusyun Fi Qolbi
Hubbuki Yahdiini Fi Darbi
Wadhu’aiyah Fadzuki Robbi
Wadhu’aiyah Fadzuki Robbi

Ummi… Ummi… Ummi… Ummi…
Ummi… Ummi… Ummi… Ummi…


Nurul Musthofa

Nurul Musthofa Nurul Musthofa
Mala Al-Akwaan Mala Al-Akwaan
Habibi Muhammad Muhammad
Muhammad Khoiril Mursalin

Allahul Jalal Athokal Jamal
Allahul Jalal Athokal Jamal
Ya Syamsal Kamal Ya Nurol ’Aini

Nurul Musthofa Nurul Musthofa
Mala Al-Akwaan Mala Al-Akwaan
Habibi Muhammad Muhammad
Muhammad Khoiril Mursalin

Kafaka Fadhlan Fil ’Ulal A’laa
Kafaka Fadhlan Fil ’Ulal A’laa
Danafatadalla Khobal Khusain

Nurul Musthofa Nurul Musthofa
Mala Al-Akwaan Mala Al-Akwaan
Habibi Muhammad Muhammad
Muhammad Khoiril Mursalin

Ya Allah Ya Badii’ Balighna Jamii’
Ya Allah Ya Badii’ Balighna Jamii’
Hadhrotasyafi Khoiri Tsaqolain

Nurul Musthofa Nurul Musthofa
Mala Al-Akwaan Mala Al-Akwaan
Habibi Muhammad Muhammad
Muhammad Khoiril Mursalin

Ya Khoiro Mu’ti Ausin Sholati
Ya Khoiro Mu’ti Ausin Sholati
Lisirridzati Nuril Kaunain

Nurul Musthofa Nurul Musthofa
Mala Al-Akwaan Mala Al-Akwaan
Habibi Muhammad Muhammad
Muhammad Khoiril Mursalin


Ya Sayyidi Ya Rasulallah

Ya Sayyidi Ya Rasulallah
Ya Man lahul Jaa ’Indallah
Innal Musii Inna Qodja’uu
Lidzambi Ya Astagfirunallah

Ya Sayyidi Ya Rasulallah
Ya Man lahul Jaa ’Indallah
Innal Musii Inna Qodja’uu
Lidzambi Ya Astagfirunallah

Ya Sayyidar Rusli Ya Thohir
Ya Ghoyatal Qoshdi Wasyani
Sholla ’Alaikal ’Alal Qodiir
Fikulli Waakhtim Wa Ahyani

Ya Sayyidi Ya Rasulallah
Ya Man lahul Jaa ’Indallah
Innal Musii Inna Qodja’uu
Lidzambi Ya Astagfirunallah

Ya Sayyidar Rusli Ya Thohir
’Abduk ‘Alaa Babikum Hami
Daim Limaan Rufiku Syakir
Fikulli Waakhtim Wa Ahyani

Ya Sayyidi Ya Rasulallah
Ya Man lahul Jaa ’Indallah
Innal Musii Inna Qodja’uu
Lidzambi Ya Astagfirunallah

Ya Ahlal Baiti Rasulillah
Ya Ahlal Karoom Wa Ahlal Wafa’
Ghitsu Ubaidan Qod Hafaa
Haair Mudhoii Ilil Ma’ad

Ya Sayyidi Ya Rasulallah
Ya Man lahul Jaa ’Indallah
Innal Musii Inna Qodja’uu
Lidzambi Ya Astagfirunallah


Annabiy Shollu ’Alaihi

Annabiy Shollu ’Alaihi
Sholawatullahi ’Alaihi
Wayam Na’ul Barokah
Kulluman Sholla ’Alaihi

Annabiy Ya Hadhirin ’Ilamu ’Ilmal Yakin
Annabiy Ya Hadhirin ’Ilamu ’Ilmal Yakin
Annarobbal ’Alamiin Faradhosholawatullahi ’Alaihi

Annabiy Shollu ’Alaihi
Sholawatullahi ’Alaihi
Wayam Na’ul Barokah
Kulluman Sholla ’Alaihi

Annabiy Ya Manhadhor Annabiy Khoirul Basyar
Annabiy Ya Manhadhor Annabiy Khoirul Basyar
Mandana Lahul Qomar Wanazal Salam ’Alaihi

Annabiy Shollu ’Alaihi
Sholawatullahi ’Alaihi
Wayam Na’ul Barokah
Kulluman Sholla ’Alaihi

Annabiy Dzakal ’Aruus Dzikruhu Yuhyi Nufuus
Annabiy Dzakal ’Aruus Dzikruhu Yuhyi Nufuus
Annashoro Wal Majus Aslamu Baina Yadaihi

Alhasan Tsumal Husain Linnabi qurrotul ’Aini
Alhasan Tsumal Husain Linnabi qurrotul ’Aini
Nuruhum Kalkaukabain Jadduhum Shollu ’Alaihi


Salamun ’Alaik

Salamun ’Alaika Ya Habiballahi
Salamun ’Alaika Ya Ya Rasulallah
Salamun ’Alaika Ya Habiballahi
Salamun ’Alaika Ya Ya Rasulallah

Salamun ’Alaika Adzkal Adzkiya-i
Salamun ’Alaika Thoha Ya Thohibi
Salamun ’Alaika Adzkal Adzkiya-i
Salamun ’Alaika Thoha Ya Thohibi

Salamun ’Alaika Ya Nurul Qulub
Salamun ’Alaika Ya Miski Wathibi
Salamun ’Alaika Ya Nurul Qulub
Salamun ’Alaika Ya Miski Wathibi
Salamun ’Alaika (2x) Ya Khotamar Rusuli

Salamun ’Alaika Dzainal Ambiya-i
Salamun ’Alaika Ashfal Ashfiya-i
Salamun ’Alaika Dzainal Ambiya-i
Salamun ’Alaika Ashfal Ashfiya-i

Salamun ’Alaika Ya Nurodz Dzholam
Salamun ’Alaika Hadil Hudaati
Salamun ’Alaika Ya Nurodz Dzholam
Salamun ’Alaika Hadil Hudaati
Salamun ’Alaika (2x) Mirobbi Samaa’i

Salamun ’Alaika Ya Abaz Zahro-i
Salamun ’Alaika Ya Jaddal Husaini
Salamun ’Alaika Ya Abaz Zahro-i
Salamun ’Alaika Ya Jaddal Husaini

Salamun ’Alaika Ya Abal Yatim
Salamun ’Alaika Ahmad Ya Habibi
Salamun ’Alaika Ya Abal Yatim
Salamun ’Alaika Ahmad Ya Habibi
Salamun ’Alaika (2x) Ya Khoirol Anaami


Ya Ghoffar

Laa Ilaha Illallah… 3x
Yuhyi Qolba Dzikrullah…

Ya Allah…
Ya Robbi Sholli Afdholis Sholawat
’Alan Nabi Mahbubana
Thoha Rasuul Muhammadun wa ’Alaihi
Shollu ’Alaihi Wasallimu

Sholallahu ’Alaa Muhammad
Wa ’Alaa Aliihi Wa Salam
Sholallahu ’Alaa Muhammad
Wa ’Alaa Aliihi Wa Salam

Allah… Allah…
’Alaikum Bisyukrillahi Ya Khoirol Umatin
Allah… Allah…
Bijahil Nabiy Mukhtarol Zainal Anbiyai
Allah… Allah…
Sholatun Wataslimun Wa Azka tahiatin
Allah… Allah…
‘Alal Musthofa Mukhtari Khoirol Bariyati
Allah… Allah…

Ya Arhamarrohimin Irhmana…
Ya Arhamarrohimin Irhamna…
Wa’afina Wa’fuanna Wa’alaa Tho’atika
Wa Syukrika… Inna…

Astagfirullah… Astaghfirullah…
Astagfirullah… Astaghfirullah…
Astagfirullah… Astaghfirullah…
Allahu Akbar Allahu Akbar


Maulaya

Maulaya Maulaya Maulaya Maulaya
Allah Ya Rasulallah Allah Ya Rasulallah
Maulaya Maulaya Maulaya Maulaya
Allah Ya Habiballah Allah Ya Habiballah

Sakantum Fu’adi Warobbul ’Ibad
Sakantum Fu’adi Warobbul ’Ibad
Wantum Muna’i Wa Aqhsol Murod
Wantum Muna’i Wa Aqhsol Murod

Maulaya Maulaya Maulaya Maulaya
Allah Ya Rasulallah Allah Ya Rasulallah
Maulaya Maulaya Maulaya Maulaya
Allah Ya Habiballah Allah Ya Habiballah

Fahal Tus’iduni Bishofwil Widad
Fahal Tus’iduni Bishofwil Widad
Wahal Tamnahuni Syariefal Maqoom
Wahal Tamnahuni Syariefal Maqoom

Maulaya Maulaya Maulaya Maulaya
Allah Ya Rasulallah Allah Ya Rasulallah
Maulaya Maulaya Maulaya Maulaya
Allah Ya Habiballah Allah Ya Habiballah

Amutu Wa Ahya ‘Alaa Hubbikum
Amutu Wa Ahya ‘Alaa Hubbikum
Wazurri Ladaikum Wa Izzi Bikum
Wazurri Ladaikum Wa Izzi Bikum

Maulaya Maulaya Maulaya Maulaya
Allah Ya Rasulallah Allah Ya Rasulallah
Maulaya Maulaya Maulaya Maulaya
Allah Ya Habiballah Allah Ya Habiballah

Farobbi Rohiemun Kariemun Wadud
Farobbi Rohiemun Kariemun Wadud
Yajuzu ’Ala ManYasyabil Maroom
Yajuzu ’Ala ManYasyabil Maroom


Marhaban Ya Nurul Aini

Marhaban Ya Nurol ’Aini
Marhaban Marhaban
Marhaban Jaddal Husaini
Marhaban Marhaban

Izhabana Biwujudin
Marhaban Marhaban
Musthofal Hadi Muhammad
Marhaban Marhaban

Ya Rasulallahi Ahlan Bika
Inna Bika Nus’ad
Wabijahih Ya Ilahi
Jud Wabaligh Kulla Maqsod

Ya Nabi Salam ’Alaika
Ya Rasul Salam ’Alaika
Ya Habib Salam ’Alaika
Sholawatullah ’Alaika

Wahdinan Nahja Sabilih
Kaibihim Nus’ad Wa Nursyad
Robbi Balighna Bijahih
Fijiwarih Khoiro Maq’aat

Asyroqol Kaunub Tihaja
Biwujudil Musthofa Ahmad
Wali Ahli Kauni Unsun
Wa Suruun Qod Tajaddal

Allah Ya Nabi Salam ’Alaika
Ya Rasul Salam ’Alaika
Ya Habib Salam ’Alaika
Sholawatullah ’Alaika

Fathrobu Ya Ahlan Masani
Fahazhoru Yummi Ghorrod
Wastahidu Bijamalin
Fauqo Fil Husni Tafarrod

Marhaban Marhaban Ya Nurol ’Aini
Marhaban Marhaban Jaddal Husaini
Marhaban Walanal Busyro Bisa’din
Marhaban Mustamirin Laisa Yanfat

Marhaban Marhaban Ya Nurol ’Aini
Marhaban Marhaban Jaddal Husaini
Marhaban Haitsu Utina Atho’an
Marhaban Jama’al Fakhrol Mu’abbad

Falirobbi Kullu Hamdin
Marhaban Marhaban
Jala’al Ya Surohul’ad
Marhaban Marhaban

Marhaban Ya Nurol ’Aini
Marhaban Marhaban
Marhaban Jaddal Husaini
Marhaban Marhaban

Ya Rasulallahi Ahlan Bika
Inna Bika Nus’ad
Wabijahih Ya Ilahi
Jud Wabaligh Kulla Maqsod

Ya Nabi Salam ’Alaika
Ya Rasul Salam ’Alaika
Ya Habib Salam ’Alaika
Sholawatullah ’Alaika

Washolatullahi Taghsya
Asyrofal Rusli Muhammad
Washolatullahi Taghsya
Asyrofal Rusli Muhammad

Sholallahu ’Alaa Muhammad Marhaban
Sholallahu ’Alaihi Wa Salam Marhaban Sholallahu ’Alaa Muhammad Marhaban
Sholallahu ’Alaihi Wa Salam Marhaban

Wasalamun Mustamirun
Kulla Hinni Ya Tajaddal
Sholallahu ’Alaa Muhammad Marhaban
Sholallahu ’Alaihi Wa Salam Marhaban


Ya Zahro

Ya Zahro-u Ya Zahro
Ya Zahro-u Ya Zahro
Ya Zahro-u Ya Zahro
Ya Zahro-u Ya Zahro

(Zahro-u Nuru ’Aini
Man Hadzaha Yu’dzini 2x)
Hakadza Qolarrasul
Fathimah Antil Batul

Ya Zahro-u Ya Zahro
Ya Zahro-u Ya Zahro
Ya Zahro-u Ya Zahro
Ya Zahro-u Ya Zahro

(Fathimah Laki Hubbi
Walaki Khotwu Darbi 2x)
(Yanmu Dauman Fi Qolbi 2x)
Hubbu Fathimal Batul

Ya Zahro-u Ya Zahro
Ya Zahro-u Ya Zahro
Ya Zahro-u Ya Zahro
Ya Zahro-u Ya Zahro

Ilahi Zidfi Umri Ma Baqitu Mindahri
Ilahi Zidfi Umri Ma Baqitu Mindahri
Hubbun Fi Qolbi Yajri
Hubbu Fathimal Batul

Ya Zahro-u Ya Zahro
Ya Zahro-u Ya Zahro
Ya Zahro-u Ya Zahro
Ya Zahro-u Ya Zahro

(Shollu ’Alaa Thohaz Zaini
Bimaulid Ummil Hasanain 2x)
(Nurun Sati’un Mubin 2x)
Fathimah Antil Batul


Allah Allah

Allahu Allah Lamma Nadani Huwwa
Fashirtu ’Abdan Mamlukan Lahu Huwa

( Khoirol Bariyah Nazhroh ’Ilayya
Ma Anta Illa Kanzul ’Athiyyah 2x)

Allahu Allah Lamma Nadani Huwwa
Fashirtu ’Abdan Mamlukan Lahu Huwa

(Inni Muhibbun Bidzikri Ahmad
Basyir Muhibban Walau Biruuya 2x)

La Ilaha Illallah Allah Allah Ya Maulana
La Ilaha Illallah Allahu Ghofarrudzunub
Ya Rasulallahi Ya Man Hubbuhu Yasyfisiqom
Anta Wa Allahi Syafi’u lilWaro Yaumaz Ziham

La Ilaha Illallah Allah Allah Ya Maulana
La Ilaha Illallah Allahu Ghofarrudzunub

Nahnu Zurna Bihimakum
Wa Allah Ya Khoirol Anam
Anta Badrun Anta Syamsun
Anta Nuurun Ya Imam

La Ilaha Illallah Allah Allah Ya Maulana
La Ilaha Illallah Allahu Ghofarrudzunub

Allah Allah Al-Madad Ya Rasulallah
Yadimal Jah ’Alaika Sholawatullah

Antal Ma’ruf Bil Judil Mukhlidh Dhuyuf
Inni Malhuf Akhidzni Bihaqillah…

Antal Habibul ’Adzhom Sirrul Mujiib
Hasya Yakif Man Lana Bi Rasulillah

Shohibal Khodro Akrimna Minka Binzroh
Wa Abaz Zahro Wal Qosim Wa Abdillah

Allah Allah Al-Madad Ya Rasulallah
Yadimal Jah ’Alaika Sholawatullah

Laka Ya Robb

Laka Ya Robbi Usholli
Wa Uhibbul Qoo Imiin
Wa Du’ai Wa Roja-i
Ya Ilahal ’Alamiin

Lastu Aqdho Lisiwaka
Wa Ana Tho’u Hudaka
Wa ’Aduwwul Li’idaka
Wa ’Aduwwul Kafirin

Laka Ya Robbi Usholli
Wa Uhibbul Qoo Imiin
Wa Du’ai Wa Roja-i
Ya Ilahal ’Alamiin

Fisholati Wa Khusyu’i
Fisujudi Wa Ruku’i
Fi Qiyami Wa Khudu’i
Aslukud Darbal Mubin

Laka Ya Robbi Usholli
Laka Ya Robbi Usholli…

Innani Ahwa Sholati
Innaha Nuru Hayati
Wasabili Linajati
Fisabilil Muttaqin

Laka Ya Robbi Usholli
Wa Uhibbul Qoo Imiin
Wa Du’ai Wa Roja-i
Ya Ilahal ’Alamiin

Robbi Ya Robbi Taqobbal
Sholawati Wa Tafadhol
Laka Inni Atawasal
Bikhitamil Mursalin

Laka Ya Robbi Usholi
Laka Ya Robbi Usholi…
Laka Ya Robbi Usholi
Laka Ya Robbi Usholi…

Selasa, 02 Agustus 2016

Pandangan Ulama Terhadap Seni Musik


Oleh: Jamaluddin Mohammad

Membincangkan dinamika dan wacana kesenian dan kebudayaan dalam dunia pesantren seolah sepi dan tidak begitu diminati. tulisan dalam artikel ini mencoba mencoba untuk menghidupkan kembali wacana tersebut.


Salah satu ulama yang memiliki perhatian dan minat besar terhadap kesenian adalah Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (W 1111). Dalam magnun opusnya, Ihya ulumuddin, al-Ghazali menyisahkan satu bab khusus pembahasan soal kesenian, khususnya seni suara dan musik. Al-Ghazali mengumpulkan, menganalisis, serta memberikan kritik dan penilaian terhadap pendapat dan komentar para ulama tentang musik<>

Dalam menghukumi musik, kata al-Gazali, para ulama berbeda pendapat. Sejumlah ulama seperti Qadi Abu Tayyib al-Tabari,  Syafi’i, Malik, Abu Hanifah, Sufyan dan lainnya menyatakan bahwa musik hukumnya haram. Seperti kata Imam Syafi’i,  ”Menyanyi hukumnya makruh dan menyerupai kebatilan. Barang siapa sering bernyanyi maka tergolong safeh (orang bodoh). Karena itu, syahadah-nya (kesaksiannya) ditolak”.

Bahkan, kata al-Syafi’i, memukul-mukul (al-taqtaqah) dengan tongkat hukumnya makruh. Permainan seperti itu biasa dilakukan orang-orang zindiq, hingga mereka lupa membaca al-Qur’an. Al-Syafi’i mengutip sebuah hadits yang mengatakan bahwa permainan dadu adalah salah satu jenis permainan yang paling dimakruhkan dibanding permainan-permainan yang lain. “Dan saya”, tegas al-Syafi’i, “sangat membenci permainan catur. Bahkan semua jenis permainan. Sebab permainan bukanlah aktivitas ahli agama dan orang-orang yang memiliki harga diri (muru’ah).” [1]

Begitu juga dengan Imam Malik. Guru al-Syafi’i ini melarang keras musik. Menurutnya, “Jika seseorang membeli budak perempuan, dan ternyata budak tersebut seorang penyanyi, maka pembeli berhak untuk mengembalikan budak tersebut (karena termasuk cacat). Pendapat Imam Malik ini kemudian diikuti oleh mayoritas ulama Madinah kecuali Ibnu Sa’id. [2]

Hal senada diungkapkan Abu Hanifah yang mengatakan bahwa musik hukumnya makruh, dan mendengarkannya termasuk perbuatan dosa. Pendapat Abu Hanifah ini didukung oleh sebagian besar ulama Kufah, seperti Sofyan al-Tsauri, Himad, Ibrahim, Syu’bi dan ulama lainnya. Pendapat-pendapat di atas dinukil dari Al-Qadi Abu Tayyib al-Tabari.[3]

Adapun pendapat ulama yang memperbolehkan mendengarkan musik datang dari Abu Thalib al-Makki. Menurut Abu Thalib, para sahabat Nabi SAW, seperti Abdullah bin Ja’far, Abdullah bi Zubair, Mughirah bin Syu’bah, Muawiyah dan sahabat Nabi lainnya suka mendengarkan musik. Menurutnya, mendengarkan musik atau nyanyian hampir sudah mentradisi dikalangan ulama salaf ataupun para tabi’in.  Bahkan, kata Abu Thalib, ketika dia berada di Makkah, pada saat peringatan hari-hari besar, orang-orang Hijaz merayakannya dengan pagelaran musik. [4]

Tradisi seperti itu juga dilakukan oleh orang-orang Madinah. Seperti yang diakui sendiri oleh Abu Thalib bahwa dia pernah melihat Qadi Marwan memerintahkan budak perempuannya untuk bernyanyi di hadapan orang-orang sufi. Al-‘Ata juga memiliki dua budak wanita yang keduanya pandai bernyanyi dan sering dipentaskan di depan saudara-saudaranya.

Suatu ketika Abi Hasan bin Salim ditanya Abi Thalib, “Mengapa engkau melarang mendengarkan musik, sementara al-Junaedi, Sirri Al-Saqati dan Dzunnun al-Misri senang mendengarkan musik?” Hasan bin Salim menjawab, “Saya tidak pernah melarang orang mendengarkan musik, sebagaimana halnya orang-orang yang lebih baik dariku. Aku hanya melarang bermain dan bersenda gurau dalam mendengarkan musik.” [5]

Antara bentuk dan isi 


Menurut al-Ghazali, baik al-Quran maupun al-Hadits, tidak satupun yang secara vulgar menghukumi musik. Memang, ada sebuah hadis yang menyebutkan larangan menggunakan alat musik tertentu, semisal seruling dan gitar [6].

Namun, sebagaimana yang dikatakan al-Ghazali, larangan tersebut tidak ditunjukkan pada alat musiknya (seruling atau gitar), melainkan disebabkan karena “sesuatu yang lain” (amrun kharij). Di awal-awal Islam, kata al-Ghazali, kedua alat musik tersebut lebih dekat dimainkan di tempat-tempat maksiat, sebagai musik pengiring pesta minuman keras.

Orang Islam tidak boleh meniru gaya hidup seperti itu. Nabi SAW sudah mewanti-wanti dengan mengatakan: “Man tsyabbaha biqaumin fahuwa minhum” (barangsiapa meniru gaya hidup suatu kaum maka ia termasuk bagian dari kaum itu).

Di samping itu, musik juga dianggap membuat lalai “mengingat Tuhan”, menggoda kita berbuat kemaksiatan, bertolak-belakang dengan prinsip ketakwaan, dst [7].  Penilaian seperti itu mayoritas muncul dari ulama-ulama fiqh yang lebih menitik beratkan pada aspek legal-formal.

Berbeda dengan ulama tasawuf yang “tidak terlalu terganggu” bahkan banyak menggunakan musik sebagai media untuk “mendekatkan diri kepada Tuhan”. Contohnya musik pengiring tarian mawlawiyyah yang sering dimainkan sufi besar Jalaluddin Rumi.

Memang, sejak awal seringkali terjadi ketegangan antara (pandangan) fiqh dan tasawuf. Yang pertama lebih menitik beratkan pada aspek legal-formal dengan berpegang kuat pada teks-teks agama (al-Quran dan al-Hadits). Sementara yang kedua lebih menitik beratkan pada substansinya dengan berpijak pada realitas kongkrit.

Menurut al-Ghazali, mendengarkan musik atau nyanyian tidak berbeda dengan mendengarkan perkataan atau bunyi-bunyian yang bersumber dari makhluk hidup atau benda mati. Setiap lagu memiliki pesan yang ingin disampaikan. Jika pesan itu baik dan mengandung nilai-nilai keagamaan, maka tidak jauh berbeda seperti mendengar ceramah/nasihat-nasihat keagamaan. Juga sebaliknya.

Dalam kaidah fiqh dikenal sebuah kaidah: “al-ashlu baqu’u ma kana ala ma kana” (hukum asal sesuatu bergantung pada permulaannya). Artinya, ketika sesuatu tidak ada hukumnya di dalam al-Quran maupun al-Hadis, maka sesuatu itu dikembalikan pada asalnya, yaitu halal (al-ashlu huwa al-hillu).

Atau dalam kaidah yang lain disebutkan: “Al-ashlu fil mu’amalah al-ibahah illa ma dalla dalilun ala tahrimiha”(hukum asal di dalam muamalah adalah halal kecuali terdapat dalil yang melarangnya). Musik masuk dalam kategori muamalah, bebeda dengan ibadah yang kedudukannya tidak bisa ditawar lagi.

Musik “Islam” dan “non-Islami”


Sekarang ini muncul penilaian di sebagian kalangan masyarakat yang mengidentifikasi musik dan lagu tertentu sebagai “Islami” dan “non Islami”. Asalkan lirik lagunya “dibumbui” nama-nama Tuhan, maka disebut “Islami”.

Bahkan cenderung menyamakan Arabisasi dengan Islamisasi. Semisal, musik/lagu yang beraroma padang pasir (gambus/berbahasa Arab) dianggap musik Islam sementara lainnya dicap bukan dari Islam.

Penilaian tersebut tidak hanya keliru, melainkan menyebabkan kita tercerabut dari akar kebudayaan kita sendiri. Keislaman bukan terletak pada bentuk dan penampilan (ekspresi) melainkan substansinya.

Juga muncul keinginan sebagian orang yang ingin “menundukkan” kesenian di bawah agama dengan memasukkan pesan-pesan keagamaan ke dalam kesenian tertentu. Contohnya dengan menaburi lirik-lirik lagu dengan “pesan-pesan keagamaan”.

Menurut Abdurrahman Wahid, hal ini disebabkan adanya ketimpangan relasi kuasa antar keduanya. Agama mencoba menundukkan kebudayaan melalui proses legitimasi. Proses ini berfungsi melakukan penyaringan terhadap hal-hal yang sesuai atau bertentangan dengan agama. Dengan ini, yang “diperbolehkan” adalah yang memperoleh legitimasi, sementara yang lain tidak [8].

Sebetulnya, tidak tepat menghadap-hadapkan antara agama dan kesenian (termasuk musik). Keduanya memiliki independensi masing-masing. Terkadang hubungan keduanya bersifat mutualis-simbiosis. Juga tidak jarang keduanya saling serang dan menyerang. Dalam kehidupan, itu pasti terjadi, dan tidak perlu disesalkan. Tinggal bagaimana menempatkan keduanya pada proporsi masing-masing secara adil, bebas, dan merdeka. Wallahu a’lam bi sawab.

Jamaluddin Mohammad, ketua Komunitas Seniman Santri (KSS) PP. Babakan Ciwaringin Cirebon

Endnotes

[1] Abi Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Libanon: Dar Al-Fikr, tt, hal 267
[2] Mughni Al-Muhtaj, hal 2, vol 3
[3] Abi Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Libanon: Dar Al-Fikr, tt, hal 268
[4] Abi Al-Abbas Ahmad bin Muhammad, Kaf al-Ria’, hal 273
[5] Abi Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Libanon: Dar Al-Fikr, tt, hal 268
[6] Mohammad Nawawi, Syarh Sulam al-Taufik, Surayabaya: Dar Ihya al-Kitab al-Arabiyyah, tt, hal 75
[7] Mohammad bin Salim, Is’adu al-Rafik wa Bughyatu al-Syiddiq, Surayabaya: Dar Ihya al-Kitab al-Arabiyyah, tt, hal 106
 [7]Abdurrahman Wahid, Pergulatan Negara, Agama, dan Kebudayaan, Jakarta: Desantara, 2001, cetakan 2
Oleh: Jamaluddin Mohammad

Membincangkan dinamika dan wacana kesenian dan kebudayaan dalam dunia pesantren seolah sepi dan tidak begitu diminati. tulisan dalam artikel ini mencoba mencoba untuk menghidupkan kembali wacana tersebut.


Salah satu ulama yang memiliki perhatian dan minat besar terhadap kesenian adalah
Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (W 1111). Dalam magnun opusnya, Ihya ulumuddin, 
al-Ghazali menyisahkan satu bab khusus pembahasan soal kesenian, khususnya seni 
suara dan musik. Al-Ghazali mengumpulkan, menganalisis, serta memberikan 
kritik dan penilaian terhadap pendapat dan komentar para ulama tentang musik<>

Dalam menghukumi musik, kata al-Gazali, para ulama berbeda pendapat. Sejumlah ulama seperti 
Qadi Abu Tayyib al-Tabari,  Syafi’i, Malik, Abu Hanifah, Sufyan dan lainnya menyatakan bahwa 
musik hukumnya haram. Seperti kata Imam Syafi’i,  ”Menyanyi hukumnya makruh dan 
menyerupai kebatilan. Barang siapa sering bernyanyi maka tergolong safeh (orang bodoh). 
Karena itu, syahadah-nya (kesaksiannya) ditolak”. 

Bahkan, kata al-Syafi’i, memukul-mukul (al-taqtaqah) dengan tongkat hukumnya makruh. 
Permainan seperti itu biasa dilakukan orang-orang zindiq, hingga mereka lupa membaca 
al-Qur’an. Al-Syafi’i mengutip sebuah hadits yang mengatakan bahwa permainan dadu 
adalah salah satu jenis permainan yang paling dimakruhkan dibanding permainan-permainan 
yang lain. “Dan saya”, tegas al-Syafi’i, “sangat membenci permainan catur. Bahkan 
semua jenis permainan. Sebab permainan bukanlah aktivitas ahli agama dan orang-orang 
yang memiliki harga diri (muru’ah).” [1]

Begitu juga dengan Imam Malik. Guru al-Syafi’i ini melarang keras musik. Menurutnya, “
Jika seseorang membeli budak perempuan, dan ternyata budak tersebut seorang penyanyi, 
maka pembeli berhak untuk mengembalikan budak tersebut (karena termasuk cacat). 
Pendapat Imam Malik ini kemudian diikuti oleh mayoritas ulama Madinah kecuali Ibnu Sa’id. [2]

Hal senada diungkapkan Abu Hanifah yang mengatakan bahwa musik hukumnya 
makruh, dan mendengarkannya termasuk perbuatan dosa. Pendapat Abu Hanifah ini 
didukung oleh sebagian besar ulama Kufah, seperti Sofyan al-Tsauri, Himad, Ibrahim, 
Syu’bi dan ulama lainnya. Pendapat-pendapat di atas dinukil dari Al-Qadi Abu Tayyib al-Tabari.[3]

Adapun pendapat ulama yang memperbolehkan mendengarkan musik datang dari Abu 
Thalib al-Makki. Menurut Abu Thalib, para sahabat Nabi SAW, seperti Abdullah bin Ja’far, 
Abdullah bi Zubair, Mughirah bin Syu’bah, Muawiyah dan sahabat Nabi lainnya suka 
mendengarkan musik. Menurutnya, mendengarkan musik atau nyanyian hampir 
sudah mentradisi dikalangan ulama salaf ataupun para tabi’in.  Bahkan, kata Abu Thalib, 
ketika dia berada di Makkah, pada saat peringatan hari-hari besar, orang-orang 
Hijaz merayakannya dengan pagelaran musik. [4]

Tradisi seperti itu juga dilakukan oleh orang-orang Madinah. Seperti yang diakui sendiri 
oleh Abu Thalib bahwa dia pernah melihat Qadi Marwan memerintahkan budak perempuannya 
untuk bernyanyi di hadapan orang-orang sufi. Al-‘Ata juga memiliki dua budak wanita 
yang keduanya pandai bernyanyi dan sering dipentaskan di depan saudara-saudaranya. 

Suatu ketika Abi Hasan bin Salim ditanya Abi Thalib, “Mengapa engkau melarang mendengarkan 
musik, sementara al-Junaedi, Sirri Al-Saqati dan Dzunnun al-Misri senang mendengarkan musik?”
 Hasan bin Salim menjawab, “Saya tidak pernah melarang orang mendengarkan musik, 
sebagaimana halnya orang-orang yang lebih baik dariku. Aku hanya melarang bermain 
dan bersenda gurau dalam mendengarkan musik.” [5]


Antara bentuk dan isi 


Menurut al-Ghazali, baik al-Quran maupun al-Hadits, tidak satupun yang secara vulgar 
menghukumi musik. Memang, ada sebuah hadis yang menyebutkan larangan menggunakan
 alat musik tertentu, semisal seruling dan gitar [6]. 

Namun, sebagaimana yang dikatakan al-Ghazali, larangan tersebut tidak ditunjukkan pada 
alat musiknya (seruling atau gitar), melainkan disebabkan karena “sesuatu yang lain” (amrun kharij).
 Di awal-awal Islam, kata al-Ghazali, kedua alat musik tersebut lebih dekat dimainkan
di tempat-tempat maksiat, sebagai musik pengiring pesta minuman keras. 

Orang Islam tidak boleh meniru gaya hidup seperti itu. Nabi SAW sudah mewanti-wanti 
dengan mengatakan: “Man tsyabbaha biqaumin fahuwa minhum” (barangsiapa meniru gaya 
hidup suatu kaum maka ia termasuk bagian dari kaum itu).

Di samping itu, musik juga dianggap membuat lalai “mengingat Tuhan”, menggoda 
kita berbuat kemaksiatan, bertolak-belakang dengan prinsip ketakwaan, dst [7].  
Penilaian seperti itu mayoritas muncul dari ulama-ulama fiqh yang lebih menitik 
beratkan pada aspek legal-formal. 

Berbeda dengan ulama tasawuf yang “tidak terlalu terganggu” bahkan banyak 
menggunakan musik sebagai media untuk “mendekatkan diri kepada Tuhan”. 
Contohnya musik pengiring tarian mawlawiyyah yang sering dimainkan sufi besar Jalaluddin Rumi. 

Memang, sejak awal seringkali terjadi ketegangan antara (pandangan) fiqh dan tasawuf. 
Yang pertama lebih menitik beratkan pada aspek legal-formal dengan berpegang kuat 
pada teks-teks agama (al-Quran dan al-Hadits). Sementara yang kedua lebih menitik
 beratkan pada substansinya dengan berpijak pada realitas kongkrit.

Menurut al-Ghazali, mendengarkan musik atau nyanyian tidak berbeda dengan mendengarkan 
perkataan atau bunyi-bunyian yang bersumber dari makhluk hidup atau benda mati. 
Setiap lagu memiliki pesan yang ingin disampaikan. Jika pesan itu baik dan 
mengandung nilai-nilai keagamaan, maka tidak jauh berbeda seperti mendengar 
ceramah/nasihat-nasihat keagamaan. Juga sebaliknya.

Dalam kaidah fiqh dikenal sebuah kaidah: “al-ashlu baqu’u ma kana ala ma kana”
 (hukum asal sesuatu bergantung pada permulaannya). Artinya, ketika sesuatu tidak ada 
hukumnya di dalam al-Quran maupun al-Hadis, maka sesuatu itu dikembalikan pada asalnya, 
yaitu halal (al-ashlu huwa al-hillu).

Atau dalam kaidah yang lain disebutkan: “Al-ashlu fil mu’amalah al-ibahah illa ma dalla 
dalilun ala tahrimiha”(hukum asal di dalam muamalah adalah halal kecuali terdapat dalil 
yang melarangnya). Musik masuk dalam kategori muamalah, bebeda dengan ibadah 
yang kedudukannya tidak bisa ditawar lagi. 


Musik “Islam” dan “non-Islami”


Sekarang ini muncul penilaian di sebagian kalangan masyarakat yang mengidentifikasi 
musik dan lagu tertentu sebagai “Islami” dan “non Islami”. Asalkan lirik lagunya “dibumbui” 
nama-nama Tuhan, maka disebut “Islami”. 

Bahkan cenderung menyamakan Arabisasi dengan Islamisasi. Semisal, musik/lagu 
yang beraroma padang pasir (gambus/berbahasa Arab) dianggap musik Islam sementara
 lainnya dicap bukan dari Islam. 

Penilaian tersebut tidak hanya keliru, melainkan menyebabkan kita tercerabut dari akar 
kebudayaan kita sendiri. Keislaman bukan terletak pada bentuk dan penampilan (ekspresi) 
melainkan substansinya.

Juga muncul keinginan sebagian orang yang ingin “menundukkan” kesenian di bawah 
agama dengan memasukkan pesan-pesan keagamaan ke dalam kesenian tertentu. 
Contohnya dengan menaburi lirik-lirik lagu dengan “pesan-pesan keagamaan”.

Menurut Abdurrahman Wahid, hal ini disebabkan adanya ketimpangan relasi kuasa 
antar keduanya. Agama mencoba menundukkan kebudayaan melalui proses legitimasi. 
Proses ini berfungsi melakukan penyaringan terhadap hal-hal yang sesuai atau 
bertentangan dengan agama. Dengan ini, yang “diperbolehkan” adalah yang 
memperoleh legitimasi, sementara yang lain tidak [8]. 

Sebetulnya, tidak tepat menghadap-hadapkan antara agama dan kesenian (termasuk musik). 
Keduanya memiliki independensi masing-masing. Terkadang hubungan keduanya bersifat 
mutualis-simbiosis. Juga tidak jarang keduanya saling serang dan menyerang. Dalam kehidupan,
 itu pasti terjadi, dan tidak perlu disesalkan. Tinggal bagaimana menempatkan keduanya 
pada proporsi masing-masing secara adil, bebas, dan merdeka. Wallahu a’lam bi sawab.

Jamaluddin Mohammad, ketua Komunitas Seniman Santri (KSS) PP. Babakan Ciwaringin Cirebon

Endnotes

[1] Abi Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Libanon: Dar Al-Fikr, tt, hal 267
[2] Mughni Al-Muhtaj, hal 2, vol 3
[3] Abi Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Libanon: Dar Al-Fikr, tt, hal 268
[4] Abi Al-Abbas Ahmad bin Muhammad, Kaf al-Ria’, hal 273
[5] Abi Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Libanon: Dar Al-Fikr, tt, hal 268
[6] Mohammad Nawawi, Syarh Sulam al-Taufik, Surayabaya: Dar Ihya al-Kitab al-Arabiyyah, tt, hal 75
[7] Mohammad bin Salim, Is’adu al-Rafik wa Bughyatu al-Syiddiq, 
Surayabaya: Dar Ihya al-Kitab al-Arabiyyah, tt, hal 106
 [7]Abdurrahman Wahid, Pergulatan Negara, Agama, dan Kebudayaan, Jakarta: Desantara, 2001,
 cetakan 2


Copas Dari : http://www.nu.or.id/post/read/19340/pandangan-ulama-terhadap-seni-musik